Prinsip Teknis dan Jenis Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling (BK)

Prinsip-prinsip, Teknis dan Jenis Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling (BK)
Prinsip Teknis dan Jenis Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling (BK)

 

Bagaimana Prinsip Teknis dan Jenis Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling (BK) ? Ada banyak istilah yang terkait dengan asesmen dalam bimbingan dan konseling, diantaranya pengukuran (measurement), penilaian (assessment), dan evaluasi (evaluation). Pada bagian ini perlu dijelaskan istilah-istilah tersebut untuk membedakan satu istilah dengan istilah yang lainnya. Pengukuran (measurement) adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu dan bersifat kuantitatif. Penilaian (assessment) adalah kegiatan pengambilan keputusan untuk menentukan sesuatu berdasarkan kriteria baik-buruk dan bersifat kualitatif. Evaluasi (evaluation) merupakan kegiatan yang meliputi pengukuran dan penilaian.


Penjelasan lebih lanjut mengenai konsep penilaian atau asesmen dalam Prinsip Teknis dan Jenis Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling (BK) ialah penilaian terhadap diri individu guna pemberian pelayanan bimbingan dan konseling agar sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan masalah konseli.

Pemahaman diri konseli harus didasarkan pada adanya keterangan tentang diri individu yang akurat dan sahih. Data diri yang tidak akurat dapat menimbulkan pemahaman yang keliru. Data yang demikian hendaknya juga diikuti dengan pengamatan terhadap konseli. Untuk itu diperlukan instrumen asesmen baik dalam bentuk tes maupun non tes.

Penggunaan asesmen dalam bimbingan dan konseling, terkait dengan penanganan masalah konseli, bukan sesuatu yang berjalan secara otomatis atau mekanistis. Dalam penggunaan instrumen asesmen hal yang harus dipertimbangkan adalah pertanyaan apakah memang diperlukan sebuah asesmen. Apabila setelah dipertimbangkan dan jawabannya diperlukan, maka hal yang perlu dipertimbangkan selanjutnya adalah keputusan tentang instrumen asesmen mana yang tepat diberikan pada konseli sesuai dengan prosedur baku yang ditetapkan, penskorannya tetap (teliti, cermat) dan penafsiran datanya tepat dengan memperhatikan berbagai hal, baik teknis maupun non teknis. Hal penting yang harus dicatat bahwa ukuran yang dihasilkan dalam pengetesan (atau pengukuran psikologis) bersifat nisbi. Dengan kata lain angka hasil pengukuran itu tidak mutlak seperti halnya jika kita mengukur panjang atau tinggi suatu benda. Setelah menjalankan pengukuran, tugas guru BK/Konselor adalah menafsirkan dan atau membaca hasil interpretasi pengukuran dan meng-komunikasikan hasilnya kepada peserta didik (konseli), sehingga konseli memperoleh pemahaman yang benar tentang arti skor yang diperoleh dan konseli memperoleh pemahaman diri yang sesuai dengan kenyataan. Pengertian lain yang perlu dimiliki konseli adalah apa yang berhasil diungkapkan melalui pengukuran dan asesmen bukan gambaran keseluruhan dirinya melainkan wakil atau potret sebagian dari keseluruhan segi kepribadian yang diukur (Tim Penyusun Modul PPPPTK, 2013).

Assessment is an umbrella term for the evaluation methods counselors use to better understand characteristics of people, places, and things (Hays, Danica G (2013). Pernyataan ini menjelaskan bahwa penilaian (asesmen) merupakan istilah umum untuk metode evaluasi oleh seorang konselor yang digunakan untuk lebih memahami karakteristik individu, tempat, dan hal-hal. Untuk sebagian besar tujuan, penilaian dapat dikonseptualisasikan dalam hal pemecahan masalah.

Lebih lanjut dalam The Standards for Educational and Psychological Testing (American Educational Research Association [AERA], American Psychological Association [APA], & National Council on Measurement in Education [NCME], 1999) menjelaskan definisi asesmen sebagai suatu metode sistematis untuk memperoleh informasi dari tes dan sumber-sumber lain, dan digunakan untuk menggambarkan kesimpulan tentang karakteristik orang, benda, atau program. Metode sistematis tersebut meliputi tes-tes terstandar, rating scale, observasi, wawancara, teknik klasifikasi dan catatan-catatan, dan sebagainya. Ragam instrumen asesmen ini dapat digunakan sebagai sarana untuk memperoleh data tentang konseli Menurut Anastasi dan Urbina (1997), asesmen didefinisikan sebagai suatu pengukuran dari sampel perilaku yang objektif dan terstandar. Cronbach (1990), menyatakan hal yang sama, bahwa asesmen merupakan suatu prosedur sistematik untuk mengobservasi dan mendeskripsikan perilaku (sampel perilaku) dengan menggunakan skala numerik atau kategori yang ditetapkan (dalam Hays, Danica G, 2013). Data asesmen memberikan informasi-informasi tentang aspek sosial individu, pendidikan, karir, dan riwayat psikologis individu).

Berdasarkan pada definisi tersebut, apabila dikaitkan dengan pelayanan bimbingan dan konseling, asesmen dapat diartikan suatu proses komprehensif dan sistematis dalam mengumpulkan data-data peserta didik untuk melihat gambaran karakteristik, kemampuan, dan kesulitan yang dihadapi sebagai bahan untuk menentukan kebutuhan nyata. Hasil asesmen ditujukan untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli.

Pembahasan lebih lanjut tentang Prinsip Teknis dan Jenis Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling (BK) adalah berkaitan dengan Prinsip-prinsip Asesmen dalam BK (Bimbingan dan Konseling) ? Prinsip-prinsip asesmen dalam bimbingan dan konseling dikemukakan sebagai berikut

1) Sesuai dengan norma masyarakat atau filosofi hidup. Prinsip ini berkaitan erat dengan filsafat dan tata nilai (norma) hidup yang berlaku di masyarakat. Artinya setiap tahapan asesmen yang dilakukan jangan sampai bertentangan dengan filsafat hidup dan tata nilai yang berlaku di masyarakat.

2) Keterpaduan. Asesmen hendaknya merupakan bagian integral dari program atau sistem pendidikan. Dengan demikian asesmen merupakan salah satu dimensi yang harus dipenuhi dalam penyusunan program disamping pemenuhan guna mencapai tujuan, bahan, metode, dan alat pelayanan. Oleh karena itu, perencanaan asesmen harus sudah ditetapkan pada saat perencanaan program, sehingga antara jenis instrumen asesmen dan tujuan pelayanan, alat pelayanan tersusun dalam satu pola keterpaduan yang harmonis.

3) Realistis. Pelaksanaan asesmen harus didasarkan pada apakah sesuatu yang akan diukur itu benar-benar dapat diukur? Dengan kata lain, instrumen asesmen yang akan digunakan harus memiliki batasan atau indikator-indikator yang jelas, operasional, dan dapat diukur.

4) Tester yang terlatih (qualified). Mengingat tidak semua orang dapat melakukan atau mengelola suatu program asesmen, maka sangat diperlukan orang yang mampu melakukan atau qualified. Hal ini harus benar-benar diperhatikan, karena keputusan yang akan diambil merupakan hal yang sangat penting bagi sasaran asesmen.

5) Keterlibatan peserta didik. Untuk dapat mengetahui sejauh mana peserta didik berhasil dalam proses pelayanan bimbingan dan konseling yang dijalaninya secara aktif, maka peserta memerlukan suatu asesmen. Dengan demikian, asesmen bagi peserta didik merupakan tuntutan atau kebutuhan. Pelaksanaan asesmen oleh konselor merupakan upaya dalam memenuhi tuntutan atau kebutuhan peserta didik akan layanan bimbingan dan konseling.

6) Pedagogis. Disamping sebagai alat, asesmen juga berperan sebagai upaya untuk perbaikan sikap dan tingkah laku ditinjau dari sisi pedagogis. Asesmen dan hasil-hasilnya hendaknya dapat dipakai sebagai alat untuk memotivasi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Hasil assemen hendaknya juga dirasakan sebagai penghargaan bagi peerta didik.

7) Akuntabilitas. Keberhasilan proses pelayanan bimbingan dan konseling perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan sebagai laporan pertanggungjawaban (accountability). Pihak-pihak tersebut antara lain: orangtua siswa, masyarakat, calon pemakai lulusan, sekolah, dan pemerintah. Pihak-pihak tersebut perlu mengetahui keadaan atau tingkat kemajuan belajar siswa atau lulusan agar dapat dipertimbangkan pemanfaatan atau tindak lanjutnya.

8) Teknik asesmen yang bervariasi dan komprehensip. Agar diperoleh hasil asesmen yang objektif, dalam arti dapat menggambarkan prestasi atau kemampuan peserta didik ang sebenarnya, maka asesmen harus menggunakan berbagai teknik dan sifatnya komprehensif. Dengan sifat komprehensif, dimaksudkan agar kemampuan dan permasalahan yang diungkap komprehensif yang mencakup berbagai bidang pelayanan bimbingan dan konseling.

9) Tindak Lanjut. Hasil asesmen hendaknya diikuti dengan tindak lanjut. Data hasil assemen sangat bermanfaat bagi konselor, tetapi juga sangat bermanfaat bagi peserta didik, dan sekolah. Oleh karenanya perlu dikelola dengan sistem administrasi yang teratur. Hasil asesmen harus dapat ditafsirkan sehingga konselor dapat memahami kemampuan dan permasalahan setiap peserta didik sehingga dapat dijadikan dasar dalam penyusunan program pelayanan bimbingan dan konseling sehingga sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan masalah peserta didik.

Prinsip-prinsip tersebut memberikan implikasi bahwa setiap Guru BK/Konselor hendaknya perlu memahami aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang harus ditegakkan berkaitan dengan persiapan, proses, evaluasi dan tindak lanjut asesmen dalam bimbingan dan konseling.

Terkait Prinsip Teknis dan Jenis Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling (BK), lalu apakah Tujuan Guru BK atau Konselor melakukan asesmen adalah untuk mengumpulkan informasi mengenai konseli, termasuk dalam hal ini adalah para peserta didik di sekolah. Terdapat 4 (empat) tujuan umum dari asesmen. Menurut Bagby, Wild, dan Turner (2003), Erford (2007) Sattler dan Hoge (2006), Tujuan asesmen yang dilakukan guru Bimbingan dan Konseling (BK) adalah: a) screening; b) identifikasi dan diagnosis; c. perencanaan intervensi; d) kemajuan dan evaluasi hasil.

Selanjutnya Lidz (2003) mendefinisikan tujuan pengukuran adalah untuk melihat kondisi peserta didik saat itu. Hasil pengukuran digunakan sebagai bahan dalam pemberian pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat. Pada sisi lain Robb (2006), menyebutkan tujuan pengukuran sebagai berikut.

a. Untuk menyaring dan mengidentifikasi peserta didik

b. Untuk membuat keputusan tentang penempatan peserta didik

c. Untuk merancang individualisasi pendidikan

d. Untuk memonitor kemajuan peserta didik secara individu

e. Untuk mengevaluasi keefektifan program

Sumardi & Sunaryo (2006), menyebutkan tujuan pengukuran sebagai berikut.

a. Memperoleh data yang relevan, objektif, akurat dan komprehensif tentang kondisi peserta didik saat ini

b. Mengetahui profil peserta didik secara utuh terutama permasalahan dan hambatan belajar yang dihadapi, potensi yang dimiliki, kebutuhan- kebutuhan khususnya, serta daya dukung lingkungan yang dibutuhkan peserta didik

c. Menentukan layanan yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan khususnya dan memonitor kemampuannya.

Hood & Johnson (1993) menjelaskan bahwa asesmen dalam bimbingan dan konseling mempunyai beberapa tujuan, yaitu:

a. Orientasi masalah, yaitu untuk membuat konselee mengenali dan menerima permasalahan yang dihadapinya, tidak mengingkari bahwa ia bermasalah

b. Identifikasi masalah, yaitu membantu baik bagi konselee maupun konselor dalam mengetahui masalah yang dihadapi konselee secara mendetil

c. Memilih alternatif solusi dari berbagai alternatif penyelesaian masalah yang dapat dilakukan oleh konselee

d. Pembuatan keputusan alternatif pemecahan masalah yang paling menguntungkan dengan memperhatikan konsekuensi paling kecil dari beberapa alternatif tersebut

e. Verifikasi untuk menilai apakah konseling telah berjalan efektif dan telah mengurangi beban masalah konselee atau belum

Selain itu, asesmen digunakan pula untuk menentukan variabel pengontrol dalam permasalahan yang dihadapi konselee, untuk memilih/ mengembangkan intervensi terhadap area yang bermasalah, atau dengan kata lain menjadi dasar untuk mendesain dan mengelola terapi, untuk membantu mengevaluasi intervensi, serta untuk menyediakan informasi yang relevan untuk pertanyaan-pertanyaan yang muncul untuk setiap fase konseling.

Bagimana Teknik Asesmen yang dapat digunakan guru Bimbingan dan Konseling (BK) ? Assesmen dalam bimbingan dan konseling terdiri dari beberapa klasifikasi asesmen. Klasifikasi tersebut diuraikan sebagai berikut (Hays, Danica G, 2013).

a. Asesmen kelompok versus individu

Perbedaan dari kedua hal tersebut terletak pada jangka waktu dan subjek yang diteliti. Asesmen kelompok dilakukan pada banyak subjek dan membutuhkan waktu yang singkat serta tidak membutuhkan banyak biaya. Sedangkan asesmen individu membutuhkan ijin terlebih dahulu sebagai syarat kelengkapan administrasi. Penggunaan assesmen individu dilakukan dengan cara mengambil sampel dari populasi seperti anak-anak atau orang yang mempunyai kebutuhan khusus. Penggunaan asesmen individu membutuhkan data yang terobservasi.

b. Asesmen terstandar versus tidak terstandar

Asesmen terstandar merupakan asesmen yang sudah diuji validitas dan reliabilitas. Terdapat prosedur yang harus dipatuhi dalam penggunaan asesmen terstandar ini. Hasil dari asesmen ini berupa skor yang objektif yang digunakan untuk menginterpretasikan data. Asesmen yang seperti itu digunakan untuk mengukur kecerdasan, bakat, minat, kepribadian, dan lain-lain. Asesmen yang tidak terstandar ini meliputi rating scales, projective techniques, observasi, dan pengukuran biografi. Asesmen ini tidak digunakan untuk mengukur dan menginterpretasikan data, akan tetapi digunakan untuk memperkuat data saja.

c. Tes kecepatan versus tes kekuatan

Tes yang menekankan pada kecepatan biasanya merupakan tes yang mengukur kemampuan, tes tersebut merupakan tes yang harus dijawab dengan cepat dan tanggap. Tes yang menekankan pada kekuatan merupakan tes yang harus dijawab dengan batasan waktu tertentu, meskipun kecepatan dibutuhkan dalam menjawab tes ini, akan tetapi kecepatan tidak menentukan tingkat perolehan skor yang tinggi. Tes tersebut diantaranya tes kecerdasan, tes bakat, dan tes prestasi. Berdasarkan beberapa klasifikasi asesmen itu, selanjutnya dipaparkan dua jenis teknik asesmen yaitu teknik tes dan nontes. Paparan teknik asesmen ini disertai dengan uraian berbagai macam instrumen dari masing-masing teknik asesmen. Kedua teknik ini dijelaskan secara komprehensif sehingga dapat membantu guru BK/konselor dalam memahami beragam teknik sehingga mampu memilih teknik asesmen yang tepat sehubungan dengan kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling.

Berikutnya yang perlu kita ketahui tentang Prinsip Teknis dan Jenis Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling (BK) adalah apa saja Jenis Asesmen yang dapat digunakan guru Bimbingan dan Konseling (BK)? Asesmen teknik tes ialah teknik pemahaman individu melalui pengumpulan data/ keterangan/ informasi diri siswa dalam lingkungannya dengan menggunakan instrumen/alat yang baku atau terstandar. Asesmen teknik tes hanya digunakan oleh sebagian guru BK/konselor yang telah memiliki sertifikasi untuk menggunakan pengukuran teknik tes psikopedagogis. Di Indonesia, organisasi profesi bimbingan dan konseling telah memfasilitasi guru BK/konselor dengan adanya sertifikasi tes bagi konselor pendidikan diselenggarakan oleh IIBKIN di bawah naungan ABKIN, atas kerjasama Universitas Negeri Malang, ABKIN dan Depdiknas.

Jenis Asesmen yang dapat digunakan guru Bimbingan dan Konseling (BK) antara lain:

a) Tes Kemampuan Umum (Intelegensi)

(1) Pengertian Kecerdasan

Salah satu definisi inteligensi yang banyak dianut orang ialah definisi yang dikemukakan oleh David Wechsler (1966) (dalam Yapsir Gandhi W dan Triyono, 2008). Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai kapasitas keseluruhan dari individu untuk bertindak dengan bertujuan, berpikir secara rasional, dan menangani lingkungannya secara efektif.

(2) Distribusi IQ

Usaha untuk memperkirakan distribusi IQ dari populasi dan menunjukkan pengkategorisasian dengan persentasenya dengan menggunakan sampel yang cukup besar telah banyak dilakukan orang.

Berikut ini ialah distribusi IQ yang dikemukakan oleh Wechsler.

130 ke atas Sangat superior

120-129 Superior

110-119 Normal cerdas

90-109 Normal

80-89 Normal kurang cerdas

70-79 Perbatasan

69 ke bawah Cacat mental

(3) Macam-Macam Tes Inteligensi

Tes Binet-Simon ialah tes inteligensi pertama yang dibuat oleh Alfred Binet dan Theophile Simon pada tahun 1904 sebagai jawaban atas permintaan Departemen Pendidikan di Perancis. Tes ini menyajikan pertanyaan-pertanyaan sehari-hari yang sederhana yang menghendaki berbagai kemampuan mental anak-anak. Pertanyaan-pertanyaan itu disusun dan disajikan dari yang paling mudah sampai yang paling sukar. Banyaknya pertanyaan yang dapat dijawab merupakan skor “mental age”-nya, yang biasa disingkat sebagai MA. Tes ini kemudian direvisi oleh Lewis M. Terman di Stanford University di AS pada tahun 1916 yang selanjutnya dikenal sebagai the Stanford Binet Test. Revisi ini dimaksud untuk menyesuaikan tes tersebut dengan bahasa dan budaya Amerika. Pada revisi Stanford ini, MA dibandingkan dengan usia kalender anak atau CA (chronological age) untuk mendapatkan nilai IQ. Revisi-revisi selanjutnya dilakukan berturut-turut pada tahun 1937, 1960, dan 1972, yang banyak sekali memberikan perubahan-perubahan, hingga pada hakekatnya Tes Stanford-Binet ini telah menjadi suatu tes inteligensi yang baru dengan norma dan skala yang lebih luas yang dapat dipakai pula mengukur IQ orang dewasa.

WISC dan WAIS, singkatan dari Wechsler Intelligence Scale for Children (untuk anak-anak), dan Weghsler Adult Intelligence Scales (untuk orang dewasa) ialah tes inteligensi yang dikembangkan oleh David Wechsler antara tahun 1939 dan 1958. Berbeda dengan tes Binet, tes ini berisikan sejumlah sub-tes performance dan sub-tes verbal yang sama banyaknya, yang dapat diskor secara terpisah atau bersama-sama sebagai IQ keseluruhan.

Di samping perannya sebagai tes inteligensi, WAIS sering kali digunakan bersama-sama dengan tes Rorschach dan Thematic Apperception Test untuk membuat evaluasi klinik. WAIS terutama membantu untuk mengukur penyesuaian emosional individu pada situasi yang menuntut kemampuan intelektual. Tes ini mencerminkan antara lain konsep-diri subyek, kemampuannya untuk bekerja di bawah tekanan waktu, konsentrasinya, sikapnya terhadap otorita, dan sebagainya.

Kedua tes inteligensi di atas, Binet-Simon dan Wechsler, merupakan tes individual, yakni tes yang hanya dapat dilaksanakan untuk perorangan, artinya seorang demi seorang dan bukannya bersamaan dalam suatu kelompok, sedangkan tes-tes inteligensi berikut ini dapat dikenakan untuk kelompok. Tes demikian biasa disebut tes kelompok.

Goodenough Draw-a-Man Test (1926) ialah salah satu tes inteligensi untuk anak-anak yang dapat digunakan baik secara individual maupan kelompok. Tes ini menghendaki anak-anak menggambar seorang laki-laki sebaik yang dapat mereka lakukan. Gambar-gambar itu kemudian dinilai dengan cermat menurut norma-norma umur untuk bagian-bagian gambar tertentu seperti mata, hidung, telinga, rambut, ekspresi wajah, pakaian, di samping postur tubuhnya. Tes ini dapat dipakai untuk memperkirakan IQ anak.

SPM atau Standard Progressive Matrixes disusun Raven, dan merupakan salah satu tes inteligensi yang dikenal luas di Indonesia. SPM merupakan tes nonverbal yang menyajikan soal-soal dengan menggunakan gambar-gambar yang berupa figur dan desain abstrak, hingga diharapkan tidak tercemari oleh faktor budaya. Tes ini tidak menghasilkan IQ, melainkan skor yang dapat dibanding-kan dengan norma untuk menunjukkan tingkat kemampuan mental seorang anak.

CFIT atau Culture Fair Inlelligence Test yang dikembangkan oleh R.B Gattell ini merupakan tes inteligensi nonverbal. Tes ini menyajikan soal-soal yang menghendaki subyek memilih suatu desain yang tepat melengkapi suatu rentetan desain-desain tertentu, mencari figur geometris yang paling berbeda dengan figur-figur lainnya, dan sebagainya. CFIT juga banyak dipakai di Indonesia.

SAT ialah singkatan dari The Scholastic Aptitude Test yang direncanakan oleh College Entrance Examination Board, suatu badan nasional di AS. Tes ini mengukur berbagai kemampuan seperti penalaran verbal, tentang matematika setingkat sekolah menengah atas, perbendaraan kata, dan penalaran kuantitatif. Tes ini secara luas digunakan di AS sebagai salah satu pertimbangan untuk dapat masuk perguruan-perguruan tinggi di AS, ataupun calon-calon mahasiswa dari luar AS.

Miller Analgies Test berisikan perta-nyaan-pertanyaan yang menghendaki pe-mikiran analogi yang rumit yang diambil dari berbagai bidang akademis. Tes ini juga secara luas digunakan di AS sebagai salah satu pertimbangan dalam menseleksi calon-calon mahasiswa di perguruan tinggi, ataupun calon-calon karyawan di berbagai perusahaan.

TIKI ialah singkatan dari Tes Inteligensi Kelompok Indonesia. Tes ini dirancang dan dibuat oleh Peter J. Drength yang bekerja sama dengan UNPAD Bandung sekitar tahun 1976 dengan menggunakan sampel nasional di Indonesia untuk validasinya. Ada bentuk panjang dengan 14 sub-tes dan bentuk pendek yang hanya menggunakan empat sub-tes.

TPA ialah singkatan dari Tes Potensi Akademis yang juga semacam tes inteligensi yang dirancang dan dibuat oleh OTO BAPPENAS Jakarta. Tes ini secara luas dipakai di Indonesia. Berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia menggunakan nilai TPA sebagai salah satu syarat untuk masuk dalam program tertentu, terutama program S2 dan S3.

b) Tes Bakat Diferensial

Marthen Pali (2008) menguraikan bahwa Tes Bakat Diferensial, nama aslinya Differential Aptitude Tests (DAT), dirancang untuk dipergunakan dalam konseling pendidikan bagi siswa usia sekolah lanjutan, yakni SLTP dan SMU/SMK (Bennett et al., 1982). DAT disusun oleh Bennett, Seashore, dan Wesman pada tahun 1947. Bentuk aslinya ialah Bentuk A dan B. Dalam perkembangannya telah dilakukan revisi dan standardisasi ulang. Pada tahun 1962 dikembangkan dalam Bentuk L dan M; tahun 1972 berkembang Bentuk S dan T; dan pada tahun 1980 Bentuk V dan W (Bennett et al., 1982).

Untuk memahami terminologi aptitude yang digunakan dalam penamaan tes ini, Bennett menggunakan definisi yang terdapat dalam Warren’s Dictionary of Psychology (1934) sebagai berikut. “Aptitude, a condition or set of characteristics regarded as symptomatic of an individual’s abillity to acquire with training some (usually specified) knowledge, skill, or set of responses, such as the ability to speak a language, to produce music …”.(Bennett et al., 1982: 5).

Subtes-subtes Bakat Diferensial dikembangkan berdasarkan suatu teori abilitas pengukuran bakat, dan terutama dikembangkan dengan lebih mengutamakan ke-gunaannya. Kegunaan yang dimaksud adalah lebih sebagai alat bantu pada pekerjaan bimbingan dan konseling sekolah daripada untuk meneliti dan melukiskan struktur dan organisasi abilitas manusia (Raka Joni dan Djumadi, 1976). Dengan kata lain, pemerian bakat-bakat yang dimaksud tidak bertolak dari konsep faktor-faktor murni, melainkan lebih menitikberatkan pada kemungkinan penggunaan daya ramal hasil tes bagi perkembangan dan karir hidup individu (Raka Joni dan Djumadi, 1976; Nunnally, 1970, 1972).

Pendapat yang serupa dikemukakan oleh Aiken sebagai berikut. “Although the correlations among the tests are fairly law, the Differential Aptitude Tests are not measures of ‘pure factors’: each test assesses a complex of mental abilities by experience.”. (Aiken, 1985: 251)

Pembahasan lebih lanjut tentang Prinsip Teknis dan Jenis Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling (BK) adalah terkait Perangkat Tes Bakat Diferensial, perangkat ini terdiri atas delapan macam subtes (Bennett et al., 1982), yaitu:

1) Berpikir Verbal (Verbal Reasoning),

2) Kemampuan Numerikal (Numerical Ability),

3) Berpikir Abstrak (Abstract Reasoning),

4) Berpikir Mekanik (Mechanical Reasoning),

5) Relasi Ruang (Space Relations),

6) Kecepatan dan Ketelitian Klerikal (Clerical Speed and Accuracy),

7) Pemakaian Bahasa I (Language Usage I),

8) Pemakaian Bahasa II (Language Usage II).

Semua sub tes di atas, kecuali Tes Kecepatan dan Ketelitian Klerikal, merupakan power test, sedangkan Tes Kecepatan dan Ketelitian Klerikal sesuai dengan namanya merupakan speed test (Bennett et al., 1952; Bennett et al., 1982; Anastasi, 1988; Anastasi, 1990).

Dalam pengembangan Tes Bakat Diferensial ditemukan bahwa kombinasi skor Tes Berpikir Verbal dan Kemampuan Numerikal dapat memprediksi kemampua akademik (Bennett et al., 1982; Anastasi, 1988; Aiken, 1985). Oleh karena itu, gabungan kedua subtes tersebut dikenal pula sebagai Tes Kemampuan Skolastik (Anastasi, 1988). Berkaitan dengan kemampuan skolastik ini, Subtes Berpikir Verbal dan Kemampuan Numerikal dapat digunakan untuk menyeleksi siswa program “keberbakatan” (gifted). Demikian juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang akan melanjutkan ke pendidikan dan pelatihan yang lebih tinggi (Bennett et al., 1952; Bennett et al., 1982).

Waktu yang diperlukan untuk mengerjakan setiap Sub-Tes Bakat Diferensial sebagai berikut:

•               Berpikir Verbal (Verbal Reasoning), 30 menit

•               Kemampuan Numerikal (Numerical Ability), 30 menit

•               Berpikir Abstrak (Abstract Reasoning), 25 menit

•               Berpikir Mekanik (Mechanical Reasoning), 30 menit

•               Relasi Ruang (Space Relations), 30 menit

•               Kecepatan dan Ketelitian Klerikal (Clerical Speed and Accuracy) I 3 menit

•               Kecepatan dan Ketelitian Klerikal (Clerical Speed and Accuracy) II 3 menit

•               Pemakaian Bahasa I (Language Usage I), 10 menit

•               Pemakaian Bahasa II (Language Usage II). 25 menit

Butir-butir pada setiap Subtes Bakat Diferensial (Bennett et al., 1952; sebagai berikut

•               Berpikir Verbal (Verbal Reasoning), 50 butir

•               Kemampuan Numerikal (Numerical Ability), 40 butir

•               Berpikir Abstrak (Abstract Reasoning), 50 butir

•               Berpikir Mekanik (Mechanical Reasoning), 68 butir

•               Relasi Ruang (Space Relations), 60 butir

•               Kecepatan dan Ketelitian Klerikal (Clerical Speed and Accuracy) I 100 butir

•               Kecepatan dan Ketelitian Klerikal (Clerical Speed and Accuracy) II 100 butir

•               Pemakaian Bahasa I (Language Usage I), 100 butir

•               Pemakaian Bahasa II (Language Usage II). 95 butir

Interpretasi hasil Tes Bakat Diferensial dinyatakan dalam angka persentil (Bennett et al., 1952; Bennett et al., 1982). Norma persentil selalu diperbaharui dari waktu ke waktu. Untuk membuat laporan individual digunakan Individual Report Form (Bennett et al., 1952; Bennett et al., 1982) yang tersedia dalam dua bentuk yaitu laporan secara manual dan denga komputer.

c) Tes Minat Jabatan

Dhany M. Handarini (2008) menjelaskan pengertian minat sebagai suatu konstruk psikologis, minat dapat didefinisikan sebagai “his (or) her like for, dislike for, or indifference to something such as an object, occupation, a person, a task, an idea, or an activity” (Layton, 1958). Minat adalah salah satu aspek yang secara umum dikategorikan sebagai motivasi. Jadi minat merupakan salah satu struktur kepribadian individu (Hansen, 1984). Bila minat seseorang dikaitkan dengan pekerjaan atau dunia kerja, maka disebut minat pekerjaan atau jabatan.

Ada dua kelompok teori yang membahas tentang minat jabatan (Hansen, 1984). Kelompok pertama adalah kelompok teori dinamis dan statis. Dalam pandangan teori dinamis, minat jabatan adalah product of a wide range of psychological and environmental influences. Teori ini menekankan pengaruh sosialisasi dan belajar dalam perkembangan minat. Sebaliknya, dalam pandangan teori statis, minat adalah trait kepribadian yang bersifat genetis.

Kelompok teori pertama menetapkan ada lima determinan minat. Determinan yang dimaksud sebagai berikut: (1) minat muncul karena pengaruh lingkungan dan/atau sosial, (2) minat bersifat genetik, (3) minat merupakan trait kepribadian, (4) minat merupakan motives, drives, atau kebutuhan, (5) minat merupakan ekspresi self-concept. Determinan-determinan tersebut diklasifikasikan sebagai faktor-faktor dinamis dan faktor-faktor statis. Dalam pembahasan tentang minat jabatan, pentingnya kelima determinan minat untuk setiap teori sangat bervariasi. Penetapan pentingnya determinan minat sangat tergantung pada bagaimana para teoritisi memandang perkembangan karier atau proses pemilihan karier, sedangkan bagaimana perkembangan minat kurang menjadi pertimbangan para teoritisi.

Kelompok teori kedua adalah teori empiris. Dalam teori-teori ini, minat jabatan dikonstruksikan dengan menggunakan analisa minat secara struktural. Biasanya hal itu dilakukan dengan menggunakan analisis faktor atau analisis cluster. Analisis yang dilakukan itu lebih difokuskan untuk memperoleh struktur minat jabatan, ketimbang untuk memperoleh gambaran bagaimana minat terbentuk. Dalam pengukuran minat, ada tiga manfaat yang diperoleh dalam pengujian terhadap struktur minat, yaitu: (a) penegasan kembali tes-tes minat yang telah ada, (b) pengembangan tes-tes minat jabatan yang baru, dan (c) pengumpulan data validitas konstruk untuk mengidentifikasi trait psikologis yang diukur oleh suatu inventori minat. Dua teori yang masuk dalam kategori teori empiris adalah teori Roe (1956) dan teori Holland (1957). Roe mengklasifikasikan jabatan menjadi 8 kelompok dan 6 level. Teori Holland menyatakan bahwa (a) individu dapat dibagi menjadi 6 tipe kepribadian atau tipe gabungan antara kepribadian-kepribadian itu; (b) lingkungan juga dapat dideskripsikan berdasarkan menjadi enam tipe; (c) pilihan dilakukan individu sesuai dengan lingkungannya dan karakteristik kepribadiannya. Keenam tipe yang dikembangkan Holland adalah Realistic, Investigative, Artistic, Social, Enterprising, dan Conventional. Teori Roe dan Holland banyak digunakan sebagai landasan teori dalam mengembangkan tes-tes minat jabatan.

2. Teknik Non Tes

Teknik non tes adalah teknik pemahaman individu untuk mengumpulkan data/keterangan/informasi diri siswa dan lingkungannya dengan menggunakan instrumen/alat yang tidak baku. Teknik nontes berarti melaksanakan pengukuran atau penilaian dengan tidak menggunakan teknik tes. Dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling teknik asesmen ini umumnya dilakukan guru BK/konselor untuk mendapatkan data dan informasi mengenai kepribadian peserta didik secara menyeluruh. Macam-macam instrumen asesmen teknik non tes yang dapat digunakan atau dikembangkan oleh guru BK/konselor antara lain.

a) Observasi

b) Wawancara (Interview)

c) Skala Sikap (Attitude Scale), yakni alat penilaian hasil belajar yang berupa sejumlah pernyataan sikap tentang sesuatu yang jawabannya dinyatakan secara berskala, misalnya skala tiga, empat atau lima.

d) Angket (Questioner), yakni instrumen penelitian yang berupa daftar pertanyaan untuk memperoleh keterangan dari sejumlah responden (sumber yang diambil datanya melalui angket). Angket atau kuesioner dapat disebut sebagai wawancara tertulis, karena isi kuesioner merupakan satu rangkaian pertanyaan tertulis yang ditujukan kepada responden dan diisi sendiri oleh responden.

e) Studi Kasus (Study Case). Sasaran studi kasus adalah individu yang menunjukan gejala atau masalah yang serius, sehingga memerlukan bantuan yang serius pula. Biasanya yang dipilih menjadi sasaran bagi suatu studi kasus adalah peserta didik yang menjadi suatu problem (problem case); jadi seorang peserta didik membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik, asal peserta didik itu dalam keadaan sehat rohani/ tidak mengalami gangguan mental.

f) Catatan Insidental (Anecdotal Records). Catatan incidental merupakan catatan-catatan tentang peristiwa sepintas yang dialami peserta didik secara perseorangan. Catatan tersebut belum berarti apa-apa terhadap penilaian sesorang, namun dapat menjadi petunjuk yang berguna apabila dihubungkaan dengan data-data.

g) Sosiometri, merupakan alat untuk mengukur derajat intensitas interaksi sosial peserta didik. Langkah dalam menggunakan sosiometri: 1) Memberikan petunjuk atau pertanyaan. Misal: tuliskan pada selembar kertas nama temanmu yang paling baik; 2) Mengumpulkan jawab yang sesungguhnya dari peserta didik; 3) Memasukan jawaban ke dalam table; 4) Gambarkan jawaban dalam sebuah sosiogram.

h) Inventori Kepribadian. Inventori kepribadian hampir serupa dengan tes kepribadian, namun pada inventori kepribadian jawaban peserta didik selalu benar selama menyatakan dengan sesungguhnya. Walaupun demikian digunakan pula skala-skala tertentu untuk mengkuantifikasi jawaban agar dapat dibandingkan. Inventori adalah satu alat untuk menaksir dan menilai ada atau tidak adanya tingkah laku, minat, sikap tertentu dan sebagainya. Biasanya inventaris ini berbentuk daftar pertanyaan yang harus dijawab. Di tinjau dari segi diungkapkannya data, maka sifat dari teknik ini adalah approach self report, sebab individu dengan inventoris itu dapat menyatakan segala aspek-asek kepribadian penyesuaiannya secara bebas. Adapun bentuk dari inventoris itu dapat berupa questionaire (angket), chek-list atau rating scale. Dengan alat-alat ini di harapkan individu dapat menunjukkan bagaimana biasanya ia merasa, bagaimana ia bersikap, berbuat dan mengerjakan sesuatu. Berdasarkan tujuan-tujuan itu maka kita mengenal adanya berbagai jenis inventori seperti: personality inventories, interest inventories, dan attitude inventories.

i) Daftar Cek Masalah, yakni sebuah daftar kemungkinan masalah yang disusun untuk merangsang atau memancing pengungkapan masalah yang pernah atau sedang dialami oleh seseorang, menyangkut keadaan pribadi individu seperti sikap, minat, kondisi jasmaniah, hubungan sosial kejiwaan, kondisi rumah serta keluarga, dll.

j) Inventori Tugas Perkembangan, adalah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik, yang dikembangkan oleh Sunaryo, dkk. ITP menurut (Sunaryo Kartadinata dkk, 2003:3), untuk mengukur tingkat perkembangan siswa atau pencapaian tugas-tugas perkembangan dari setiap aspek perkembangan, teori perkembangan diri dari Loevinger (dalam Kartadinata ITP, 2001:3) dipilih sebagai kerangka kerja teoretik dalam mengembangkan inventori tugas-tugas perkembangan.

k) Analisis Tugas Perkembangan, yakni teknis untuk mengungkap pencapaian tugas perkembangan siswa/ mahasiswa dalam keseluruhan aspek-aspek tugas perkembangan, yaitu Landasan Hidup Religius, Landasan Perilaku Etis, Kematangan Emosional, Kematangan Intelektual, Kesadaran Tanggung Jawab, Peran Sosial sebagai Pria dan Wanita, Penerimaan Diri dan Pengembangannya, Kemandirian Perilaku Ekonomis, Wawasan Persiapan Karier, Kematangan Hubungan dengan Teman Sebaya, Persiapan Diri untuk Pernikahan dan Hidup Berkeluarga (khusus untuk siswa SLTA dan PT).

l) IKMS (Identifikasi Kebutuhan dan Masalah Siswa). Secara umum, pelayanan bimbingan dan konseling (BK) didasarkan pada kebutuhan dan permasalahan yang secara aktual obyektif dan aktual prediktif dirasakan dan dihadapi oleh siswa. Aktual obyektif bisa diperoleh dengan memberikan aplikasi instrumentasi berupa tes dan non tes, sedangkan asumtif prediktif dapat dilakukan dengan cara menganalisis hasil pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling yang telah lalu, kemudian dimasukkan layanan-layanan yang sekiranya dibutuhkan oleh siswa. IKMS juga berguna untuk menyusun program BK berdasarkan identifikasi kebutuhan dan masalah siswa yang diidentifikasi menurut bidang masalahnya.

Demikian uraian tentang Prinsip Teknis dan Jenis Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling (BK). Semnoga ada manfaatnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page

Scroll to Top