Teori-teori Bermain dan Perkembangan Anak Usia Dini (TK PAUD)

Mengapa guru TK atau guru PAUD perlu memahami Teori-teori Bermain dan Perkembangan Anak Usia Dini (TK PAUD) ? Salah satu kompetensi yang harus dikuasai Guru PAUD atau Guru TK adalah menguasasi karakteristik peserta didik pada aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual. Tuntutan kompetensi ini mengharuskan guru untuk mempelajari, memahami, dan mampu mengimplementasikan dasar-dasar pendidikan anak usia dini. Oleh karena itu, kajian terhadap dasar-dasar pendidikan anak usia dini, khususnya anak usia 4-6 tahun menjadi sangat penting dan strategis bagi guru Taman Kanak-kanak (TK) maupun Pendidik Anak Usia Dini (PAUD) secara keseluruhan. 

1. Teori-teori Bermain dan Perkembangan Anak Usia Dini Berdasarkan Perspektif Ki Hajar Dewantara

Banyak pakar pendidikan di Indonesia yang mempunyai filosofi tentang pendidikan anak usia dini, diantaranya Ki Hadjar Dewantara, KH. Hasyim  Asy’arie, KH. AhmadDahlan, HOS Cokroaminoto. Namun dari sekian banyak pakar tersebut, pemikiran Ki Hadjar Dewantara dipandang lebih representatif, oleh karena itu pembahasan di sinihanya mengemukakan pemikiran KiHadjar Dewantara tentang pendidikan anak usia dini.

Ki Hadjar Dewantara adalah pionir Pendidikan Nasional yang berasar dari keluarga bangsawan Yogyakarta. Beliau lahir pada tanggal 2 Mei 1889 dengan nama RM. Suwardi Suryaningrat, setelah berumur 40 tahun tepatnya tanggal 25 Februari 1928, ia berganti nama dengan sebutan Ki Hadjar Dewantara. Tentang pendidikan anak usia dini Ki Hadjar Dewantara, memandang bahwabermain bagi anak merupakan kodrat alam yang memiliki pembawaan masing-masing serta kemerdekaan untuk berbuatserta mengatur dirinya sendiri.

Kekuatan kodrati yang ada pada anak ini tiada lain adalah segala kekuatan dalam kehidupan lahir dan batin anak yang ada karena kekuasaan kodrat (karena faktor pembawaan atau keturunan yang ditakdirkan secara ajali). Kodrat anak bisa baik dan bisa juga sebaliknya. Kodrat itulah yang akan memberikan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.Namun, kebebasan dalam bermain itu juga sangat relatif karena dibatasi oleh hak-hak yang patut dimiliki oleh orang lain.

 

Anak memiliki hak untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya sehingga anak patut diberi kesempatan untuk berjalan sendiri dan tidak terus menerus dicampuri atau dipaksa. Guru TK hanya boleh memberi bantuan jika anak menghadapi hambatan yang cukup berat dan tidak dapat diselesaikan. Hal tersebut merupakan cerminan dari semboyan “Tut Wuri Handayani.” Selanjutnya, Ki Hadjar Dewantara juga berpandangann bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang bermanfaat lahir maupun batin serta dapat memberikan kebebasan atau kemerdekaan bagi diri anak. Kebebasan bagi anak melalui kegiatan bermain itu hendaknya diterapkan pada cara berpiir anak, yaitu agar anak tidak selalu diperintahkan atau dicekoki dengan buah pikiran orang lain, tetapi mereka harus dibiasakan untuk mencari serta menemukan sendiri berbagai nilai pengetahuan dan keterampilan dengan menggunakan pikiran dan kemampuannya sendiri.

Atas dasar ini Ki Hadjar Dewantara berpendapat bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berkembang sehingga pemberian kesempatan yang luas bagi anak untuk mencari dan menemukan pengetahuan karena yang demikian itu secara tidak langsung akan memberikan peluang bagi potensi anak untukdapat berkembang secara optimal. Dengan demikian, Ki Hadjar Dewantara memandang bahwa pendidikan anak itu sifatnya hanya sebatas menuntun pertumbuhan dan perkembangan kekuatan-kekuatan kodrati yang dimiliki anak, hal ini berlangsung melalui kegiatan bermain.

 

Pendidikan sama sekali tidak mengubah dasar pembawaan anak, kecuali memberikan tuntunan agar kodrat-kodrat bawaan anak itu tumbuh dan berkembang kearah yang lebih baik. Dengan demikian, pendidikan anak usia dini berfungsi menuntun anak yang berpembawaan tidak baik menjadi lebih berkualitas lagi disamping untuk mencegah dari segala macam pegaruh yang negatif. Atas dasar ini, tujuan pendidikan anak usia dini adalah untuk menuntun segala kodrati yang ada pada anak agar ia sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginyadalam kehidupannya.

 

Selanjutnya salah satu teori pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang paling terkenal adalah teori trikon. Ia mengemukakan kebudayaan wajib berlangsung secara terus menerus sebagai suatu rantai yang makin lama makin bertambah panjang. Kebudayaan setiap angkatan merupakan mata rantai penyambung mata rantai yang terdahulu dengan mata rantai yang akan datang. Sehingga kebudayaan wajib berjalan tidak terputus atau harus kontinyu, maju, dan berkelanjutan. Pendidikan merupakan pusat kebudayaan dan kebudayaan bukan suatu hal yang statis dan tradisional, namun unsur-unsur kebudayaan asing diperhatikan untuk memilih unsur-unsur yang dapat dimasukan ke dalam kebudayaan Indonesia secara selektif. Dalam menilai kebudayaan asing ini, Ki Hadjar Dewantara berpangkal maupun berpusat atau berkonsentrasi pada kebudayaan Indonesia.

 

Kebudayaan Indonesia bersama dengan bangsa lain di seluruh dunia membina kebudayaan umat manusia. Kebudayaan dunia terjadi dari perpaduan atau konvergensi kebudayaan bangsa-bangsa. Tiga sikap perilaku dalam teori pendidikan Ki Hadjar Dewantara, adalah kontinyu, konsentris, konvergensi yang selanjutnya disingkat trikon. Berorientasi pada tempat terlaksananya pendidikan anak usiadini khususnya dan pendidikan pada umumnya, Ki Hadjar Dewantara membagi tiga komponen lingkungan yang berperan dalam pendidikan anak, yaitu :

a. Lingkungan keluarga, yaitu pendidikan yang pertama dan utama yang dilaksanakan oleh anggota keluarga terutama ayah dan ibu.

b. Lingkungan sekolah, pendidikan yang dilaksanakan setelah keluarga yaitu yang dilaksanakan oleh guru.

c. Lingkungan masyarakat, tidak dapat dipungkiri anak mempunyai dorongan untuk menjadi anggota dalam lingkungan masyarakat dan lingkungan ini turut mendidik dan membentuk karakter anak.

Ketiga lingkungan ini oleh Ki Hadjar Dewantara disebut sebagai Tri Pusat Pendidikan.

 

2. Teori-teori Bermain dan Perkembangan Anak Usia Dini Berdasarkan Sudut Pandang John Dewey, Froebel, Maria Montessori, Piaget, Vygotsky

Beberapa teori bermain dan perkembangan anak usia dini yang dikemukakan oleh ilmuwan-ilmuwan barat sebagai berikut.

a. John Dewey (1859-1952)

Dewey adalah teoritikus pendidikan terkemuka abad ke 20 di seluruh universitas Amerika. Ia dilahirkan pada 20 Oktober 1859 di Burlington, Vermont Amerika. Pada awalnya Dewey membentuk kelompok para wali murid yang berminat memasukan anak-anaknya ke sekolah yangagak berbeda dengan sekolah lain di Chicago. Atas bantuan mereka baik finansial maupun moral, sebuah sekolah dasar mulai didirikan di bawah pengawasan lembaga yang ia pimpin. Sekolah tadi kemudian diberi nama “sekolah percobaan”. Sekolah ini dikenal lebihpouler dengan sebutan “Sekolah Dewey”.

 

Pemikiran Dewey tentang pendidikan pada umumnya dan pendidikan anak pada khususnya tertuang dalam karya monumental yang berjudul Democracy and Educatian.Melalui karya ini Dewey menyatakan bahwa pendidikan adalah rekonstrusi dan reorganisisi pengalaman secara konstan. “Education is a constant reorganizing or reconstructing of experience” (Dewey, 1955). Penekanannya pengalaman ini menimbulkan konsekuensi teknis dalam formasi akal pikiran. Dia mengatakan bahwa tidak perlu ditanyakan lagi, pendidikan itu adalah formasi akal pikiran.

 

Namun, perlu diketahui formasi di sini mengandung arti teknis, tergantung pada ide mengenai sesuatu yang berlangsung dari luar. Meyer merangkum prinsip umum dalam pendidikan Dewey sebagai berikut (Meyer, 1949)

1) Pendidikan itu adalah hidup, bukan sekedar persiapan untuk hidup.

2) Pendidikan adalah perkembangan. Selama perkembangan itu berlangsung, pendidikan juga berlangsung terus.

3) Pendidikan adalah rekonstruksi dari sekumpulan pengalaman secara terus menerus.

4) Pendidikan adalah proses sosial, dan untuk merealisasikan hal itu sekolah harus berbentuk komunitas demokratis.

Selanjutnya, Dewey berpendapat bahwa sekolah merupakan model masyarakat demokratis dalam bentuk kecil, di mana anak-anak dapat mempraktekan keterampilan yang diperlukan untuk hidup di alam demokratis. Melalui pengalaman-pengalaman itu seorang peserta didik mampu menghadapi dunia luar yang selalu berubah karena realitas itu berubah secara konstan (Dewey, 1950). Teori pendidikan Dewey mengerucut pada aliran filsafat progresivisme yang difokuskan pada sekolah sebagai child-centereddan menekankan kurikulum yang mengutamakan aktivitas (activity-centered curriculum).

Program sekolah terefleksi dalam kebutuhan dan minat anak. Guru dan murid merencanakan kegiatan belajar secara bersama. Anak-anak adalah peserta belajar yang aktif. Mereka memiliki gagasan untuk meneliti sesuatu dan melaksanakannya secara mandiri atas dorongan dan pengawasan guru (Ellis, 1986). Prinsip-prinsip dasar pendidikan yang progresif menurut Dewey secara singkat dirangkum oleh Kneller sebagai berikut:

1) Pendidikan itu seharusnya “kehidupan” itu sendiri bukan persiapan untuk hidup.

2) Belajar dikaitkan secara langsung dengan minat anak.

3) Belajar melalui pemecahan masalah (problem solving) harus didahulukan dari pada pengulangan mata pelajaran secara ketat.

4) Peran guru bukan untuk menunjukkan, tetapi untuk membimbing.

5) Sekolah harus meningkatkan upaya kerjasama, bukan bersaing.

6) Hanya cara demokratislah yang sesungguhnya dapat meningkatkan peran ide dan personalitas anak secara bebas, karena itu diperlukan bagi kondisi pertumbuhan anak yang benar.

 

Selanjutnya Dewey menekankan sistem belajar melalui kegiatan dan pengajaran anak secara mendalam, sama seperti halnya yang telah dianjurkan oleh Pestalozzi dan Proebel pada abad ke 18. Teori-teori pendidikan Dewey dipopulerkan oleh William Heard melalui Progreive Eduction Movement, yang sangat berpengaruh di Amerika maupun di Negara-negara lain. Secara ringkas, teori-teori Dewey adalah sebagai berikut :

1) Anak harus benar-benar tertarik pada kegiatan, pengalaman atau pekerjaan yang
edukatif.

2) Anak harus menemukan dan memecahkan kesukaran atau masalahnya sendiri.

3) Anak harus menentukan cara pemecahan masalah yang dihadapi sendiri.

4) Anak harus mencoba cara terbaik untuk memecahkan sesuatu melalui penerapan
dalam pengalaman, percobaan atau kehidupan sehari-hari.

 

Dalam proses belajar, setiap anak harus memusatkan perhatiannya pada pemecahan suatu masalah pokok, harus berpandangan luas dan menerima semua sumber informasi atau saran yang masuk akal, harus tetap tertarik pada sesuatu masalah dan mencari cara pemecahannya bukan tertarik pada keuntungan atau kerugian yang akan diperolehnya dan ia harus mau menerima segala akibat dari kesimpulan atau keputusan yang dibuatnya. Dewey yakin bahwa pendidikan umum yang dikelola dengan baik akan dapat memperbaiki suatu masyarakat dan dikatakannya pula bahwa sekolah yang baik harus merupakan miniaturmasyarakat. Pendidikan harus dapat mengembangkan minat maupun kemampuan anak sehingga ia akan berperan serta dengan baik di sekolah atau di masyarakatnya, anak harus menggunakan bangunan, alat-alat, permainan, pengamatan alam, pengungkpan diri (bukan hanya patuh pada orang lain)dan hasil aktivitas sebagai cara belajar atau pengembangan dirinya. Anak harus mempelajari pranata-pranata sosial dan cara hidup dengan jalan ikut berperan serta dalam sekolah maupun masyarakat. Pendidikan harus menunjang kelangsungan pranata, adat-istiadat, keterampilan dan pengetahuan dari generasi yang satu ke generasi berikutnya.

 

b. Froebel (1782-1852)

Froebel adalah pencetus ide awal sekaligus pelopor tunggal berdirinya Kindergartenatau Taman Kanak-kanak (TK) pertama di dunia. Maraknya lembaga-lembaga PAUD di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Froebel, di samping murid-muridnya, Carl Schulz dan Elizabeth Peabody. Froebel dilahirkan pada tanggal 21 april 1762 di Jerman. Sekitar tahun 1800 Froebel mendapat kesempatan untuk memasuki dunia pendidikan, yang selanjutnya mengantarkan ia menjadi seorang pendidik. Tahun 1807-1810 ia mendapat kesempatan mendidik tiga anak laki-laki, ia juga berkesempatan mengunjungi sekolah Pestalozzi di Yverdon. Dari kunjungan inilah pemikiran-pemikiran Froebel banyak dipengaruhi oleh Pestalozzi.

 

Pada tahun 1816, Froebel berkesempatan untuk mendirikan lembaga pendidikan yang dimulai dengan lima orang anak dan kemudian mencapai 56 orang. Dua orang yang membantu Froebel adalah Middendorf dan Langenthal. Kegiatan pendidikannya sempat mundur dan muncul lagi tahun 1837. Selanjutnya beliau mulai memberi nama sekolahnya dengan sebutan Kinderganten. Disamping itu juga beliau melatih anak-anak perempuan untuk menjadi guru Kinderganten dan beliau selalu memikirkan bagaimana cara-cara mendidik anak-anak usia 3-7 tahun secara tepat. Lingkungan terutama tumbuh-tumbuhan,maka Froebel meluaskan prinsip Evaluasi Organis, yaitu adanya integrasi yang fungsional antara pikiran dan suasana fisik. Artinya, dalam membuat suatu produk, maka ingatan, khayalan, persepsi, kemauan, dan perasaan bekerjasama dengan saraf otak, otot tubuh, dan panca indera. Berdasarkan adanya integrasi fungsional tersebut, bagi Froebel, tujuan pendidikan yang pertama adalah aktivitas dan produktivitas (Aswardi Sudjud, 1977). Froebel percaya bahwa dalam kehidupan terdapat “kekuatan dalam” yang mengatur alam itu sendiri, termasuk kehidupan anak, baik kehidupan fisik maupun psikis. Semua tingkah laku atau aktivitas anak mengalami perkembangan dari yang sederhana ke arah yang kompleks. Hal ini menunjukkanadanya aktivitas yang produtif dan tingkah laku manusiadi dalam individu yang telah mengalami evolusi.

 

Kemudian Froebel juga berupaya  mencari prinsip tunggal yang dapat menjelaskan aktivitas kreatif di alam semesta, tentang terciptanya sesuatu yang baik atau sesuatu yang bersifat kebendaan maupun kejiwaan. Berdasarkan upaya pencariannya, ia menemukan hukum perlawanan atau hukum pertentangan yang sama dengan hukum theca, antithesa, dan sinthesa(Aswardi Sudjud,1977). Hukum ini menyatakan bahwa perkembangan manusia selalu melalui tahap-tahap tertentu, yaitu: masa bayi (infancy), masa kanak-kanak kecil (childhood),masa kanak-kanak besar, masa muda (youth), dan masa dewasa (maturity).Namun setiap tahap tidak dibatasi oleh usia atau tahun tertentu karena tahap tersebut akan ditentukan oleh kecenderungan pusat tertentu yang menguasai perkembangan lainnya.

 

Oleh karena itu setiap tahap perkembangan yang dialami oleh anak harus dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh. Anak memiliki potensi, dan potensi itu akan hilang jika tidak dibina dan dikembangkan. Tahun-tahun pertama dalam kehidupan seorang anak amatlah berharga serta akan  menentukan kehidupannya di masa yang akan datang. Oleh karena itu, masa anak merupakan masa emas (The Golden age) bagi penyelenggaraan pendidikan. Masa anak merupakan fase (tahap) yang sangat fundamental bagi perkembangan individu karena pada fase inilah terjadi peluang yang cukup besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang. Atas dasar ini, pendidikan keluarga sebagai pendidikan yang pertama bagi anak, sangatlah penting karena kehidupan yang dialami oleh anak pada masa kecilnya akan menentukan kehiidupannya di masa depan.

 

Bertolak dari pandangannya tersebut, pada tahun 1837 Froebel mempunyai gagasan besar untuk mendirikan Taman Kanak-kanak. Gagasan tersebut mendapat sambutanantusias di Amerika Serikat. Tahun 1855 seorang murid Froebel yang bernama Carl Schulz mengikuti jejak gurunya untuk mendirikan sekolah taman kanak-kanak berbahasa Jerman di Watertown. Selanjutnya tahun 1860, Elizabeth Peabody juga membuka sekolah taman kanak-kanak swasta yang kemudian diikuti dengan didirikannya sebuah sekolah guru bagi calon guru Taman Kanak-kanak. Anak-anak di TK diberi materi yang sederhana misalnya pasir, tanah liat, kertas, silinder, atau kubus untuk belajar merancang bentuk atau membuat sesuatu dalam kegiatan kelompok maupun individu. Imajinasi mereka juga akan tergantung dengan mendengarkan dongeng-dongeng, cerita dan legenda. Froebel berpendapat bahwa, pendidikan dapat membantu perkembangan anak secara wajar. Ia menggunakan “taman” sebagai simbol dari pendidikan anak. Apabila anak mendapatkan pengasuhan yang tepat, seperti halnya tanaman (tunas) muda akan berkembang secara wajar mengikuti hukumnya sendiri. Simbol “taman” dari Froebel inilah yang menginspirasi tumbuhnya lembaga-lembaga Taman Kanak-kanak (TK) di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

 

Pendidikan Taman Kanak-kanak harus mengikuti sifat dan karakteristik “taman” atau anak. Oleh sebab itu, bermain dipandang sebagai metode yang tepat untuk membelajarkan anak serta merupakan cara anak dalam meniru kehidupan orang dewasa di sekelilingnya secara wajar.

 

Selanjutnya teori pendidikan Froebel didasarkan atas keyakinannya terhadap kesatuan alam, adanya hukum-hukum alam yang universal dan keyakinannya terhadap Tuhan sebagai pengatur kehidupan manusia yang juga merupakan bagian dari alam. Dalam hal ini, Froebel sependapat dengan Pestalozzi bahwa anak-anak sejak lahir memiliki kemampuan khusus masing-masing, tetapi ia menyatakan pula bahwa perkembangan, kemampuan, dan pemenuhan kebutuhan diri berasal dari dorongan hati anak tersebut melalui aktivitas yang dilakukannya secara spontan. Dikatakan pula bahwa, berpikir adalah suatu aktivitas otak dan berpikir terdapat pula dalam bentuk-bentuk perbuatan yang lain, seperti bermain, bersikap, bercakap-cakap, menyanyi, dan daya pengungkapan diri. Jadi, pengetahuan dan perbuatan merupakan bentuk aspek yang sama dengan pernyataan diri serta kreativitas. Sebagaimana tanaman yang tumbuh dengan bantuan alam, seorang anak juga tumbuh dan berkembang jika dibantu oleh orangtuaatau guru dalam mewujudkan naluri serta memanfaatkan kemampuan alamiahnya (Aswardi Sudjud, 1997).

 

Froebel menganggap bahwa pengetahuan dan pertumbuhan hanya akan mengembangkan naluri serta minat anak yang memang sudah ada. Karena Froebel benar-benar mengerti tentang naluri dan minat tersebut, ia menentukan berbagai pola aktivitas seperti permainan, lagu atau rancangan bentuk yang telah diatur sebelumnya, dan hal-hal lain yang akan memenuhi kebutuhan pendidikan anak dan akan memuaskan minat spontan anak dalam tahap-tahap pertumbuhan tertentu. Pandangan pendidikan Froebel yang utama adalah:

1)  Pendidikan bukan merupakan persiapan untuk hidup masa dewasa, tetapi lebih merupakan pengalaman hidup yang akan menyatukan pikiran dengan tindakan;

2)Ekspresi diri dan belajar dari kerja (seperti berkebun, pekerjaan jahitan, menenun, musik, merancang, pekerjaan tangan,dan kegiatan lainnya) adalah metode terbaik untuk belajar, memperoleh pengetahuan serta keterampilan mengembangkan bakat;

3) Anak-anak harus dibimbing sehingga mereka akan belajar melalui pengalaman dalam suatu kelompok kerja sama serta akan membentuk sikap dan kebiasaan moral yang baik, saling membantu akan menciptakan persahabatan diantara mereka. Disekolah Taman Kanak-kanak semuanya menjadi miniaturmasyarakat yang ideal;

4) Spontanitas, kegembiraan dan disiplin yang diberikan kepada anak-anak harus wajar dan memberikan ciri terhadap sekolah tersebut maupun program-programnya;

5) Manusia adalah bagian dari alam dan tunduk kepada hukum alam. Oleh karena itu, alam harus dipelajari oleh para ahliilmu pengetahuan, sama seperti  tumbuh-tumbuhan dan binatang yang harus juga dipelajari (Aswandi Sudjud, 1997).

 

Pemikiran Froebel sangat besar sumbangannya di dunia pendidikan modern karena menurutnya manusia pada dasarnya dinamis atau produktif dan tidak hanya bersifat reseptif saja. Manusia mempunyai kemampuan untuk berkembang sendiri, bukanlah sepotong spons yang mengisap pengetahuan dari luar saja. Di samping itu Froebel juga sangat menekankan pada pendidikan masa kanak-kanak, khususnya usia 3-6 atau 7 tahun. Pada masa inilah pendidikan sesungguhnya dapat dimulai, dan untuk inilah Kindergarten didirikan tahun 1837. Pada masa ini tiga ekspresi anak perlu diperhatikan yakni latihan pancaindera, bahasa dan bermain.

 

c.Maria Montessori (1870 –1952)

Dari sekian banyak tokoh pendidikan anak, hanya Montessori yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk anak-anak. Montessori lahir di Italia pada tahun 1870, tahun 1896 ia menamatkan pendidikannya sebagai dokter. Ia adalah dokter pertama yang mencurahkan banyak perhatian pada anak-anak tunanetra yang ketika itu kurang sekali mendapatkan layanan. Montessori selama dua tahun memimpin rumah sakit anak-anak tunanetra di Roma dengan menggunakan metode pendidikan Itard dan Seguin. Dari pengalamannya ternyata banyak orang menggunakan metode pendidikan Seguin tanpa memahami maksudnya. Pengalaman dari hasil penyelidikannya yang diperolehnya sebagai kepala rumah sakit anak-anak tunanetra dipergunakan untuk pendidikan anak-anak normal. Pada tahun 1900, Montessori melanjutkan pelajaran dalam ilmu pendidikan dan mendapat kesempatan untuk mempraktikkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya pada sebuah sekolah rakyat. Kemudian kesempatan yang lebih besar terbuka lagi baginya ketika ia diijinkan mempraktikkan metodenya pada sebuah sekolah anak buruh kasardi Roma. Sekolah itu dinamakannya Casa dei Bambiniyang berarti “rumah anak-anak”. Pandangan Montessori tentang pendidikan anak tidak terlepas dari pengaruh pikiran ahli yang lain, seperti Rousseau dan Pestalozzi, yang menekankan pola kondisi lingkungan bebas dan penuh kasih agar potensi anak dapat berkembang optimal. Montessori memandang anak usia prasekolah/TK sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Ia memahami bahwa pendidikan merupakan aktivitas diri yang mengarah pada pembentukan disiplin pribadi, kemandirian dan pengarahan diri.

 

Menurut Montessori, persepsi anak tentang dunia merupakan dasar dari ilmu pengetahuan. Untuk itu ia merancang sejumlah materi yang memungkinkan indera seorang anak dikembangkan. Dengan menggunakan materi untuk mengoreksi diri, anak menjadi sadar terhadap berbagai macam rangsangan yang kemudian disusun dalam pikirannya. Oleh karena itu, Montessori mengembangkan alat-alat belajar yang memungkinkan anak untuk mengeksplorasi lingkungan. Pendidikan Montessori juga mencakup pendidikan jasmani, berkebun, dan belajar tentang alam. Montessori beranggapan bahwa pendidikan merupakan suatu upaya untuk membantu perkembangan anak secara menyeluruh dan bukan sekedar mengajar, spirit atau dasar-dasar kemanusiaan itu berkembang melalui interaksi antara anak dengan lingkungan. Montessori meyakini bahwa ketika dilahirkan, anak secara kodrati sudah memiliki pola perkembangan psikis atau jiwa. Pola ini tidak dapat teramati secaralahir. Tetapi sejalan dengan proses perkembangan yang dilaluinya maka akan dapat teramati. Anak memiliki motif atau dorongan yang kuat ke arah pembentukan jiwanya sendiri (self contruction) sehinggga secara spontan akan berusaha untuk membentuk dirinya melalui pemahaman terhadap lingkungannya.

 

Pandangan Montessori yang paling
terkenal adalah bahwa dalam perkembangan anak terdapat masa peka, yaitu suatu
masa yang ditandai dengan begitu tertariknya anak terhadap suatu objek yang lainnya.
Pada masa tersebut anak memiliki kebutuhan dalam jiwanya yang secara spontan meminta
kepuasan. Masa peka ini tidak bisa dipastikan kapan timbulnya pada diri seorang
anak karena bersifat spontan dan tanpa paksaan. Setiap anak memiliki masa peka yang
berbeda. Satu hal perlu diperhatikan adalah bahwa jika masa peka tersebut tidak
dipergunakan secara optimal, tidak akan ada lagi kesempatan bagi anak untuk
mendapatkan masa pekanya kembali. Tetapi meskipun demikian, guru dapat memprediksi
atau memperkirakan timbulnya masa peka pada seorang anak dengan melihat minat
anak pada masa itu.

 

Berkaitan dengan hal tersebut maka tugas seorang guru adalah mengamati dengan teliti perkembangan setiap anaknya yang berhubungan dengan masa pekanya. Kemudian guru bisa memberikan stimulasi atau rangsangan yang dapat membantu berkembangnya masa peka anak sesuai dengan fungsinya. Anak memiliki kemampuan untuk membangun sendiri pengetahuannya, dan hal tersebut dilakukan oleh anak mulai dari awal sekali. Gejala psikis atau kejiwaan yang memungkinkan anak membangun pengetahuannya sendiri dikenal istilah jiwa penyerap (absorbent mind). Dengan gejala psikis/kejiwaan tersebut, anak dapat melakukan penyerapan secara tidak sadar terhadap lingkungannya, kemudian menggabungkannya dalam kehidupan jiwanya. Seiring dengan perkembangannya, proses penyerapan tersebut akan berangsur disadari.Selanjutnya, Montessori berpendapat bahwa kemerdekaan (kebebasan) adalah hak asasi setiap anak. Merdeka berarti sanggup membuat sesuatu dengan tenaga dan usaha sendiri, tanpa bantuan atau paksaan orang lain. Anak-anak mempunyai daya di dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu, tugas dari pendidikan adalah membimbing dan membina daya itu agar dapat berkembang secara baik dan wajar. Setiap perkembangan datangnya dari dalam. Oleh karena itu, anak-anak jangan diganggudengan selalu memberikan pertolongan kepada mereka. Anak tidak akan senang dengan pertolongan itu, karena  sesungguhnya mereka sanggup dengan tenaga sendiri menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepada mereka. Oleh karena itu dalam sistem pendidikan Montessori tidak ada hukuman atau hadiah. Disiplin tidak datang dari luar karena takut mendapatkan hukuman, atau karena mengharapkan hadiah. Disiplin adalah suatu kesadaran yang tumbuh dari jiwa anak-anak itu sendiri. Kemauan untuk bekerja pada dasarnya sudahada pada diri setiap anak. Untuk itu sebaiknya terus dipupuk dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga setiap pekerjaan yang diakukan anak dapat menimbulkan perasaan tanggung jawab. Pekerjaan yang dimaksud disini adalah permainan. Permainan diyakini dapat menanamkan rasa tanggung jawab pada anak, karena bermain bagi anak adalah sama dengan bekerja bagi orang dewasa. Dengan kata lain, pekerjaan anak adalah
bermain karena mereka melakukan permainan dengan kesungguhan. Lebih dari itu Motessori memandang bahwa permainan merupakan “kebutuhan batiniah” setiap anak karena bermain mampu menyenangkan hati, meningkatkan keterampilan, dan meningkatkan perkembangannya. Konsep bermain inilah yang kemudian disebutnya belajar sambil bermain. Lebih lanjut Britton, 1992 mengemukakan bagi anak permainan adalah sesuatu yang menyenangkan, suka rela, penuh arti, dan aktivitas secara spontan. Permainan sering juga dianggap kreatif, menyertakan pemecahan masalah, belajar keterampilan sosial baru, bahasa baru dan keterampilan fisik
yang baru. 

 

Montessori memandang guru-guru
di Taman Kanak-kanak adalah pemimpin dan pembimbing. Tugas mereka tidak terletak
pada bidang pemberian pelajaran, tetapi memimpin atau membimbing anak dalam perkembangan
jiwanya untuk menguasai sesuatupekerjaan atau ilmu. Alat pelajaran yang dipilih
secar bebas oleh anak menunjukkanapa yang dibutuhkannya buat dirinya. Hal ini sesuai
dengan prinsip kemerdekaan yang menjadi dasar dari sistem pendidikan Montessori.
Di sekolah Montessori tidak ada pembagian dalam kelas-kelas, seperti yang lazim
pada sekolah biasa. Ruangan belajar mirip dengan kamar di rumah, ada meja dan kursi,
jambangan bunga di atas meja, papan tulis yang rendah letaknya dan bak tempat buat
cuci tangan. Dinding dihiasi dengan gambar-gambar yang menarik dan gembira. Di sudut
ada pula aquarium dengan ikan yang berenang-renang. Di dekat ruangan belajar
ada kebun, anak-anak bebas keluar masuk pergi ke kebun. Artinya suasana kelas di
sekolah bukanlah suasana belajar yang tegang, tetapi suasana rumah tangga yang
gembira dan bebas. Pelajaran dinilai dengan berbagai latihan, seperti memeriksa
kebersihan muka, tangan, jari, rambut, dan telinga, atau anak didik disuruh
bergerak diam-diam dalam ruangan, disuruh memperhatikan sikap yang baik dan tertib.
Atau dimulai dengan percakapan tentang kejadian sehari-hari. Kemudian dilanjutkan
dengan pelajaran bebas yang menyuruh anak-anak memilih alat-alat yang dibutuhkan
sesuaidengan jiwa mereka ketika itu.

 

d. Jean Piaget

Jean Piaget dilahirkan di Neuchatel, sebuah kota universitas kecil di Swiss, ayahnya seorang sejarawan abad pertengahan di universitas tersebut. Piaget mengikuti ayahnya sebagai pemikir yang cermat dan sistematis tetapi ibunya justru sebaliknya, yakni sangat emosional sehingga tingkah lakunya sering menimbulkan ketegangan di dalam keluarga (William Crain, 2007).

 

Dalam hal ini, Piaget meneruskan cara-cara belajar sang ayah dan menemukan tempat pelarian paling tepat dari konflik keluarga dengan cara menyendiri. Sejak kecil Piaget menunjukkan kemampuan sebagai ilmuwan kecil yang sangat menjanjikan di masa depan. Hal ini ditunjukan ketika usia 10 tahun, Piaget menerbitkan sebuah artikel tentang burung albino yang dilihatnya di taman. Pada usia 15 tahun, Piaget mengalami krisis intelektual yang membuatnya sadar bahwa keyakinan agama danfilosofisnya kekurangan fondasi ilmiah. Hal ini membuat ia mencari cara untuk memadukan filsafat dengan sains. Dia membaca banyak buku mengenai ide-ide baru di dalam tulisannya, meskipun tulisan-tulisan itu tidak dimaksudkan bagi siapa-siapa melainkan untuk dirinya
sendiri. Pencarian tersebut tidak dilakukan sepenuhnya karena ia masih berusaha memperoleh gelar doktornya di dalam ilmu alam. Pada usia 23 tahun, ia mulai
menetapkan rencana riset di bidang psikologi anak, fokus mempelajari perkembangan pikiran. Setelah itu, dia menggunakan temuan-temuannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lebih luas di dalam epistimologi, yaitu persoalan-persoalan filosofis berkenaan dengan asal usul pengetahuan.

 

Selanjutnya Piaget memutuskan untuk mempelajari anak pada tahun 1920 ketika bekerja di Laboratorium Binet di Paris. Di sana tugasnya adalah mengkonstruksi tes kepandaian bagi anak-anak. Awalnya dia merasakan pekerjaannya sebagai aktivitas yang sangat membosankan. Ia tidak berminat memberikan skor jawaban yang benar atau salah pada anak-anak, seperti yang dituntut oleh tes kepandaian tersebut. Namun beberapa saat kemudian, Piaget menjadi tertarik terhadap respon anak-anak kecil tersebut, khususnya terhadap jawaban-jawaban anak yang keliru. Kesalahan mereka, begitulah yang dilihatnya, memiliki pola konsisten yang menyatakan bahwa pikiran mereka memiliki sifatnya sendiri yang unik.

 

Atas dasar itu, Piagetberpendapat bahwa anak kecil mungkin tidak “lebih bodoh” dari pada anak-anak yang lebih besar atau orang dewasa, hanya karena anak berpikir dengan cara yang seluruhnya berbeda dengan orang dewasa (Ginsburg dan Opper, 1988). Oleh karena itu untuk mempelajari ide-ide unik anak yang berpotensi tersebut, Piaget meninggalkan tes-tes standar yang menurutnya memaksa respon anak menjadi “saluran-saluran artificial bagi seperangkat pertanyaan dan jawaban”, serta menggunakan sebuah wawancara klinis yang lebih terbuka untuk “menguatkan aliran kecenderungan-kecenderungan spontan mereka” (Piaget, 1926). Pikiran anak-anak dalam periode pra-operasional sangat berbeda dengan pikiran anak yang lebih besar atau orang dewasa. Pikiran pra-operasional
bercirikan egosentrisme,animisme, heteromoni moral, memandang mimpi sebagai peristiwa
di luar dirinya, kurangnya kemampuan mengklasifikasi, kurangnya kemampuan
pengkonservasian, dan banyak lagi atribut lain yang tidak bisa dibahas di sini (William
Crain, 2007). Anak-anak menjadi egosentris saat merekamemahami sesuatu hanya dari
pandangan mereka sendiri. Anak-anak berasumsi bahwa segala sesuatu berfungsi
seperti yang mereka lakukan. Dengan cara yang sama Piaget berusaha
menunjukkanbahwa konsepsi anak-anak tentang mimpi berkaitan erat dengan
egosentrisme.

 

Selain anak-anak masih egosentris, mereka juga gagal menyadari mereka menyadari kandungan di mana setiap orang memilikipengalaman pribadi dan subjektif seperti mimpi. Pada wilayah moral, egosentrisme bergandeng tangan dengan heteronomy moral. Artinya, anak-anak melihat aturan hanya dari sudut pandang sebagai hal-hal yang mutlak yang diturunkan dari atas. Mereka belum bisa melihat bagaimana aturan-aturan dilandaskan pada kesepakatan mutualisme antara dua pelaku atau lebih yang berusaha mengoordinasikan sasaran-sasaran mereka yang berbeda dengan suatu cara yang kooperatif. Selain itu, terdapat keterkaitan antara egosentrismedan performaanak-anak di dalam tugas-tugas ilmiah, seperti melakukan percobaan-percobaan. Hal ini sama seperti anak yang egosentrik memandang segala sesuatu dari sudut pandang sendiri, anak yang gagal melakukan percobaan berfokus hanya pada satu aspek masalah. Misalnya, ketika air dituangkan dari satu gelas ke gelas lain yang lebih pendek dan lebar, anak memusatkan perhatiannya hanya kepada satu dimensi yang menyolok perbedaan tinggi. Mereka tidak bisa melihat perbedaan ini dan melihat dua aspek dalam situasi bersamaan.

 

Selanjutnya anak-anak pada tahap operasi berpikir konkret sanggup memahami dua aspek suatu persoalan secara serentak. Di dalam interaksi-interaksi sosialnya, anak-anak memahami bukan hanya apa yang akan mereka lakukan, tapi juga kebutuhan pendengarnya. Ketika mereka menjalani percobaan, mereka memahami bukan hanya perubahan yang terlihat mata, tetapi juga perubahan-perubahan yang terjadi. dengan demikian, kemampuan untuk mengoordinasikan dua pandangan secara serempak membentuk landasan bagi pemikiran sosial sekaligus pemikiran ilmiah.

 

e.Lev Semyonovich Vygotsky

Dia adalah tokoh penting dalam psikologi yang berpengaruh besar pada pendidikan anak. Keluarga Vigotsky memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh keluarga lain pada umumnya, yakni senang dengan percakapan yang menarik. Iklim percakapan dalam keluarga ini menjadi sebuah karakter yang tertanam sangat kuat dalam diri Vigotsky kecil. Saat ia mencapai usia remaja, dia dikenal oleh teman-temannya sebagai profesor kecil karena dia selalu mengarahkan percakapan mereka pada diskusi, perbantahan dan perdebatan. Vigotsky juga suka membaca sejarah, karya sastra dan puisi. Selanjutnya, akan dikemukakan teori-teori psikologi perkembangan Vigotsky yang berimplikasi besar bagi pendidikan anak usia dini. Beberapa teori psikologi Vygotsky yang paling terkenal adalah ujaran, egosentris dan ucapan dalam hati.

1) Ujaran

Menurut Vygotsky, satu-satunya alat psikologi yang paling penting adalah ujaran. Ujaran membebaskan pikiran dan perhatian pada perseptual langsung, sebuah kebebasan yang membedakan kita dari spesies lain. Untuk mengilustrasikan teori ini, Vygotsky memandang pentingnya riset Kohler tentang cara pemecahan masalah yang dilakukan kera. Kohler melihat jika kita meletakan pisang di bidang penglihatan kera tetapi jauh dibelakang jeruji sehingga tidak bisa dijangkaunya, perhatian kera akan sangat terpaku kepada pisang sehingga sulit sekali bagi kera untuk memperhatikan hal-hal lain. Bahkan kera tidakakan berpikir untuk menggunakan sebuah tongkat yang terletak didekatnya, kecuali tongkat itu harus berada dibidang pandang si kera juga(Kohler, 1925; Vygotsky, 1930).

 

Sebaliknya, pikiran manusia mampu menjangkau lebih luas di bidang perseptual langsungnya. Dalam hal ini, ujaranlah yang memampukan manusia bertindak demikian. Karena kata-kata seringkali mengacu kepada objek-objek yang tidak ada, manusia dalam situasi seperti kera bertanya pada diri sendiri, adakah alat yang dapat digunakan untuk menjangkau pisang itu? adakah tongkat atau alat lain disekitarnya yang dapat digunakan untuk meraihnya? dengan kata lain, manusia menggunakan kata-kata untuk membayangkan dan mengarahkan pencariannya akan objek-objek yang tidak berada dalam pandangannya.Vygotsky mengatakan bahwa kemampuan anak untuk terlibat dialog batin anak berjalan dalam tiga tahap:

a)Tahap awal, yaitu acuan kepada objek yang tidak nyata berlangsung dalam
interaksi anak-anak dengan orang lain. Disini mengarahkan perhatian anak pada objek-objek yang tidak dilihatnya. Contoh; seorang ibu berkata pada anaknya, “Kami akan pergi ke taman sekarang, jadi ambil ember dan sekopmu”

b)Tahap dua, pada usia tiga tahun atau lebih, seorang anak mulai mengarahkan kepada diri sendiri,“Di mana aku letakkan ember ku? aku perlu sekopku“, dan mulai mencari objek yang tidak ada padanya saat itu. Anak-anak sering terdengar berbicara sendiri ketika dia bermain. Selanjutnya pada usia enam tahun ujaran anak yang mengarah pada dirinya menjadi semakin tak bersuara.

c) Tahap ketiga, pada usia 8 tahun atau lebih, ujaran pada hati anak semakin tidak
terdengar. Namun ujaran tersebut bukan menghilang, tetapi dilakukan diam-diam dalam hati. Suara itu berubah menjadi ucapan dalam hati (inner speech), sebuah dialog batin yang diam dan dilakukan terhadap diri sendiri.

Ketigatahap ujaran Vygotsky di atas dikenal dengan istilah penginternalisasian interaksi-interaksi sosial dalam diri anak. Anak-anak belajar bentuk-bentuk sosial tingkah laku dan menerapkannyapada diri sendiri.

 

2) Ujaran Egosentris

Dalam proses penginternalisasian ujaran sosial (social speech), anak-anak melewati sebuah fase Di manamereka menghabiskan sejumlah waktu untuk berkata keras-keras pada diri sendiri. Orang pertama yang membahas ujaran seperti ini adalah Piaget, ia menyebut hal ini sebagai ujaran egosentris (egosentrical speech)  Piaget mengamati bahwa jika anak-anak perempuan yang berusia 5 tahun bermain kotak pasir, masing-masing anak akan berbicara dengan antusias tentang topik-topik yang sebenarnya tidak bisa dibayangkan anak-anak lain.

 

Piaget menyebut ujaran ini dengan istilah “egosentrik” karena ia melihat ujaran tersebut merefleksikan egosentrisme umum pada semua anak-anak. Mereka tidak menyesuaikan ujarannya sesuai dengansudut pandang pendengar karena secara egosentris dia beranggapan bahwa pendengar sama dengan persepsi dirinya. Vygotsky menyampaikan bahwa ujaran egosentrisme sangat berguna dan menjadi jalan utama menuju ucapan dalam hati.

 

3) Ucapan dalam Hati

Ketika seseorang berbicara dengan diam-diam pada diri sendiri, sesungguhnya orang tersebut sudah mengetahui subjek yang ada dalam pikirannya, sehingga demi keringkasan mereka membatasi kata-kata kita hanya kepada hal-hal baru saja. Selain itu, terdapat karakteristik lain dari ucapan dalam hati, yakni dominasi “kepekaan” di atas “pemaknaan”. Artinya kepekaan sebuah kata adalah perasaan yang dimunculkan kata itu dalam diri anak itu sendiri, dan perasaan tersebut sangat bergantung kepada konteks bagaimana kata-kata itu muncul. Misalnya, kata singa bisa memunculkan perasaan yang mencakup rasa takut sampai rasa simpati yang lembut berdasarkan cerita kata itu dikemukakan. “Makna” kata dapat dijelaskan dengan perasaan yang muncul dari anak, mengacu pada makna yang tepat.

 

Makna kata harus stabil diberbagai konteks dan penting jika kita berharap bisa mengkomunikasikannya dengan jelas. Namun didalam pengalaman batiniah anak, ketika ia menggunakan kata-kata untuk memikirkan sesuatu yang benar bagi diri sendiri, sesungguhnya anak tersebut juga terpengaruh oleh kepekaan kata-kata itu sendiri.

 

3. Teori-teori Bermain dan Perkembangan Anak TK Berdasarkan Pandangan Abdullah Nasheh Ulwah, Ibnu Qoyyim Al-Jauzyyah (Filsuf Muslim)

Pandangan filsuf muslim tentang teori bermain dan perkembangananak TK dalam modul ini diwakii oleh Abdullah Nasheh Ulwah dan Ibnu Qoyyim Al-Jauzyyah. Akan diuraikan sebagai berikut. Selanjutnya Anda diharapkan dapat menarik intisari bagaimana pandangan tentang teori bermain untuk anak TK berdasarkan pandangan filsufTimur (Islam).

 

a. Pandangan Abdullah Nasheh Ulwan

Berbeda dengan pandangan filsuf Barat tentang pendidikan anak sebagaimana dikemukakan di atas. Abdullah Nasih Ulwan salah satu tokoh pemikir Islam yang memiliki karya brilian di bidang pendidikan. Salah satu dari beberapa karya tersebut adalah kitab Tarbiyahal-Aulad Fi-al-Islam,(Pendidikan Anak dalam Islam). Ia dilahirkan di sebuah kota kecil di daerah Qadhi Askar yang terletak di Halab, Suriah, pada tahun 1928 M.Pemikiran pendidikan anak usia dini menurut Nasheh Ulwan dapat dirangkum ke dalam lima pokokpikiran, sebagai berikut:

1) Mendidik dengan Keteladanan (al-Taarbiyah bi al-Qudwah)

Pendidikan melalui bermain dengan metode keteladanan merupakan metode yang paling efektif untuk mengembangkan kecerdasan anak baik emosional, moral, spiritual, dan etos sosialnya. Jika sifat ini yang ditanamkan dan diajarkan terhadap anak, akan tumbuh pribadi yang jujur,berakhlak mulia, berani dan bertanggung jawab, serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama. Untuk itulah seorang anak memerlukan pendidikan yang benar-benar memiliki jiwa yang baik, jujur, bertanggung jawab. Demikian sebaliknya, jika pendidik adalah seorang pembohong, penghianat, orang yang kikir, penakut dan hina, anak tersebut akan tumbuh dalam kebohongan, khianat, durhaka, kikir, hina, dan penakut.

 

2) Mendidik dengan Adat Kebiasaan (al-Tarbiyah bi al-Adah)

Bermain dalam penanaman pembiasaan dalam pembelajaran terhadap anak berfungsi untuk menumbuhkan serta mengembangkan kecerdasan jiwanya dalam menemukan nilai-nilai tauhid yang murni, budi pekerti, yang mulia, rohani yang luhur, dan etika religi yang benar. Pada dasarnya setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang fitrah (suci). Ada dua faktor yang dapat mengembangkan kepribadian anak yakni faktor lingkungan keluarga dan lingkungan sosial (sekolah dan lingkungan lainnya).Kedua faktor inilah yang memiliki peran strategis mengubah perilaku dan kepribadian anak dalam menjalani kehidupannya apakah akan menjadi baik (sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan dalam al-Qur’an) atau sebaliknya jatuh dalam keburukan. Kuatnya pengaruh keluarga dan lingkungan dalam mengembangkan dan mendidik emosional anak menjadi alternatif mereka untuk meraih kesuksesan dalam hidupnya, tumbuh dengan benar, berdiri berdasarkan nilai-nilai islami, memiliki spiritual yang tinggi, serta kepribadian utama jika ia dibekali dengan pendidikan islam dan lingkungan yang baik.

 

3) Mendidik dengan nasihat (al-Tarbiyah bi al-Mau’idzhah).

Nasheh Ulwan berpendapat bahwa metode tausiah(nasihat) dapat digunakan untuk mendidik akidah anak, termasuk mempersiapkan anak yang baik secara moral, emosional, maupun sosial. Ulwan berpendapat bahwa nasihat dan petuah memiliki pengaruh yang cukup besar dalam menumbuhkan kesadaran diri anak terhadap hal-hal yang dapat mendorong mereka menuju harkat dan martabat yang luhur, menuju akhlak mulia, serta tumbuhnya jiwa berdasarkan nilai-nilai islam. Oleh karena itu tidak heran jika dalam Al-Qur’an pengembangan metode ini menjadi prioritas yang diserukan bagi manusia untuk mengadopsinya dalam menjalankan pendidikan yang dilakukannya.Nasheh Ulwan menyampaikan pendapatnya inididasarkan pada surat Luqman, Di manadalam satu ayatnya  menceritakan pola pendidikan anak dengan nasihat. Selain itu, para nabi yang lain, nabi Nuh as, nabi Hud as. Juga menggunakan nasihat untuk memperingatkan umatnya, walaupun umatnya membangkang dan akhirnya dilaknat Allah swt. Abdullah Nasih Ulwan juga menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun yang menyangkal bahwa nasihat yang tulus jika memasuki jiwa yang bening, hati yang terbuka, akal yang jernih dan pikiran yang matang dapat memberikan respon yang baik dan meninggalkan bekas yang mendalam dalam diri anak.

4)Pendidikan dengan Pengawasan (al-Tarbiyah bi al-Muldhazah)

Pendidikan melalui kegiatan bermain dengan dengan perhatian dan pengawasan adalah mencurahkan perhatian penuh dan mengikuti perkembangan aspek akidah dan moral anak, memantau kesiapan mental dan sosial anak serta mendampingi anak dalam berbagai situasi lingkungan sosialnya. Pola pendidikan model ini mempunyai dasar hukum dalam islam yang kuat sehingga dapat mengembangkan kecerdasan anak menuju manusia yang sempurna (insan kamil). Salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang menjadi landasan bagi pola pendidikan ini adalah surat Al-Tahrim ayat 6 sebagaimana dikutip berikut ini:Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahannya terdiri dari manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengajarkan apa yang diperintahkan.(Q.S At-Tahrim: 6).

5) Metode Pemberian Hukuman (al-Tarbiyah bi al-Uqubah)

Ada dua istilah yang muncul dalam masalah hukuman dalam Islam yakni hududdan ta’zir. Hudud adalah hukuman yang telah ditentukan oleh syariat yang wajib dilaksanakan karena Allah. Ta’ziradalah hukuman yang ditentukan oleh Allah untuk setiap perbuatan maksiat yang tidak terdapat hadatau kairah. Sebagaimana hudud, ta’zirbertujuan untuk memberikan pelajaran terhadap orang lain demi kemaslahatan umat (Nasheh Ulwan, 1990).Namun hukuman yang diterapkan oleh orangtuadan pendidik terhadap anak berbeda, baik cara maupun jenisnya dengan hukuman yang diberikan bagi orang-orang umum karena hukuman bagi anak sifatnya motivasi dalam mengembangkan potensi. Dalam hal ini Nasih Ulwan menjelaskan bahwa penerapan hukuman terhadap anak diperbolehkan dengan beberapa syarat sebagai berikut :

1)Bersikap lemah lembut dan kasih sayang dalam membenahi kesalahan anak;

2)Menerapkan hukuman terhadap anak secara bertahap dari yang paling ringan  hingga yang paling keras;

3)Menunjukkankesalahan anak dengan berbagai pengarahan;

4)Menunjukkan kesalahan anak dengan memberikan isyarat;

5)Menunjukkankesalahan anak tidak dengan kecaman;

6) Tidak menunjukkankesalahan anak dengan memutuskan hubungan (tidak  engacuhkannya);

7) Menunjukkan kesalahan dengan memukulnya.

 

Dengan demikian, hukuman dalam pendidikan anak merupakan cara yang ditempuh untuk membuat anak jera sehingga mampu menghentikan perilaku buruknya. Nasheh Ulwahmemberi batasan bahwa dalam menghukum anak atau memukul hendaknya tidak sampai menyebabkan cacat dan bekas pada anak karena hal tersebut belum tentu dapat menjadikan anak jera, malah sebaliknya timbul sifat dendam pada anak.

 

Selanjutnya Nasheh Ulwan, menjelaskan hukuman yang diberikan orangtuamaupun guru hanyalah hukuman yang sifatnya mendidik, baik penekanan terhadap fisik maupun mental anak sehingga orangtua maupun guru dapat menerapkan hukuman dengan meminta anak untuk mengerjakan tugas, menghafalkan doa-doa dan surat-surat pendek ataupun meminta anak untuk mengerjakan salat sunah.

 

b. Pandangan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah

Ibn Qayyim Al-Jauziyyah mempunyai pandangan-pandangan yang brilian tentang pentingnya masa awal perkembangan anak, Ibn Qayyim Al-Jauziyyah sebagaimana dikatakan oleh Usman Nadjati adalah salah seorang ulama besar yang pemikiran-pemikirannya banyak berkaitan dengan psikologi dan pendidikan, termasuk didalamnya tentang bagaimana anak-anak yang suci, bersih, dan keberadaannya diamanatkan oleh Allah SWT. Dididik dan diarahkan perkembangannya kearah yang baik dan berguna bagi kehidupan kelak (Mahammad Usman Nadjati, 2002). 

 

Ibn Qayyim Al-Jauziyyah memandang anak didik sebagai makhluk beradab dan berakhlak, menurutnya, diantara adab-adab dan akhlak yang harus diperhatikan oleh anak adalah adab yang berhubungan dengan kepribadiannya. Adab kepada ilmu yang sedang dicarinya, dan adab yang berhubungan dengan gurunya. Ia juga menegaskan bahwa anak yang baik adalah anak yang memiliki tekad kuat untuk meraih kesempurnaan ilmunya. Kata kuncinya adalah hendaknya tidak melakukan kemaksiatan dan senantiasa menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan, karena yang demikian itu akan membukakan beberapa pintu ilmu, menjernihkan hati dan memudahkan cahaya ilmu yang akan menyinari hatinya (Ibn Qayyim Al-Jauziyyah,1961). Dalam konteks PAUD, anak-anak perlu dibimbing kepada sikap kompetitif dalam mencari ilmu dan mulai diperkenalkan secara bertahap beberapa sifat yang harus dihindari oleh anak-anak. Perkembangan yang paling baik adalah bagaimana anak-anak dibiasakan dengan pola-pola pergaulan yang bernilai islami dan mencerminkan pada aklak yang luhur. Anak-anak juga perlu dibiasakan menjauhi tempat-tempat yang menyebabkan lahwun (ke sia-siaan) dan tempat-tempat yang membawa keburukan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan memelihara potensi dan pola pikir yang terus berkembang dengan pesat.

 

Selanjutnya, Ibn Qayyim Al-Jauziyyah berpandangan bahwa kedisiplinan perlu ditanamkan pada anak sejak dini. Hal ini dapat dimanifestasikan dalam kegiatan anak sehari-hari, seperti: disiplin dalam waktu, etika makan, etika bicara, cara mengajukan pertanyaan yang baik dan secara umum dalam aspek-aspek yang terjadi dalam pergaulan. Disamping itu juga anak perlu diarahkan pada pembentukan pola pikir yang sehat dan berpandangan luas dengan tidak fanatic dengan pendapat orang yang diidolakan. Dengan sikap seperti ini, anak-anak nantinya dapat mencari informasi secara bebas, bersikap selektif dan berusaha membuka wacana lebih luas dari berbagai sumber. Sebagai penguat motivasi agar giat dan semangat dalam mencari ilmu, sepatutnya anak-anak senantiasa dipersiapkan untuk dapat menyakini dan mengingat betapa besar keutamaan mencari ilmu dengan mendapat balasan dari Allah berupa kemudahan dalam berbagai urusan hidup dan dilapangkannya jalan menuju surga.Dengan beberapa adab dan akhak tersebut,


Ibn Qayyim Al-Jauziyyah sangat menitik beratkan pada pembentukan akhlak yang luhur bagi anak-anak dan hanya dengan akhlak yang mulia anak-anak nantinya akan hidup dengan baik dan disenangi oleh banyak orang, yang pada gilirannnya dapat menciptakan suasana yang kondusif ditengah-tengah masyarakat. Hal ini dibuktikan bahwa beliau juga menyoroti pentingnya anak-anak dipersiapkan dan dirangsang untuk menjadi sosok yang cintaterhadap ilmu pengetahuan murni, ikhlas dalam aktivitas, dan selalu bertanya kepada guru tentang apa yang penting diketahui oleh dirinya.  Dalam konteks ini, sifat malu tidak harus menghalanginya untuk terus mendalami dan mempelajari agama. Anak-anak sejakawal dijauhkan dari sikap putus asa untuk terus mencari ilmu dan dipicu untuk senantiasa meluangkan tenaga dan waktunya untuk menuntut ilmu dan mendapatkannya. Anak usia dini (usia emas) adalah penuh dengan rasa ingin tahu dan selalu mau bertanya.

 

Dalam pandangan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah anak-anak harus dibiarkan untuk bertanya karena menurutnya pertanyaan memiliki sikap ilmiah yang besar, apalagi kalau pertanyaan tersebut ditindaklanjuti dengan sikap mendengarkan jawaban dan penjelasan yang baik. Ibn Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan, “Kunci ilmu adalah pertanyaan yang tepat dan mendengarkan jawaban dan penjelasan dengan cara yang baik”. Dengan pernyataan ini, ia menganjurkan agar anak-anak dirangsang untuk dapat mengajukan pertanyaan dengan baik dan sopan, juga mau mendengarkan jawaban guru dengan seksama. Dua sifat ini menjadi kunci penting dalam meningkatkan proses pembelajaran dan meraih ilmu secara maksimal.

 

Dalam konteks pendidikan anak usia dini, pandangan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah ini diarahkan pada komitmen yang besar dari guru dan orangtua agar dapat member perhatiannya terhadap perkembangan anak dalam aspek-aspek yang berhubungan dengan pengetahuan dan keilmuan sejak dini.

Hal ini dapat dimulai dengan membacakan buku buat mereka, menyediakan buku-buku dan menjadikan rumah buku untuk mereka. Dengan demikian, anak-anak akan terbentuk dan terbiasa sebagai pribadi-pribadi yang cinta terhadap buku dan ilmu pengetahuan. Beliau memandang tujuan pendidikan yang utama adalah menjaga (kesucian) fitrah anak danmelindunginya agar tidak jatuh pada penyimpangan serta mewujudkan dalam dirinya ubudiyah (penghambaan) kepada Allah SWT (Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, 1961). Tujuan tersebut dapat dicapai dengan cara:

1)Menanamkan akhlak mulia dalam diri anak didik dan menjauhkannya dari akhlak buruk.

2) Menciptakan kebahagiaan dalam dirinya. 

3) Selalu memperhatikannya baik ketika mereka sedang tidur maupun ketika sedang berkomunikasi (berbicara).

4) Mengarahkan cara berkomunikasi dengan orang lain.

5) Memperhatikan cara berpakaian yang baik

6) Mengarahkan bakat, mengembangkan kemampuan dasar anak, menyertainya dengan pendidikan agama agar tidak terjerumus dikemudian hari.

 Dalam konteks PAUD, Ibn Qayyim Al-Jauziyyah menyoroti pentingnya orangtua dan pendidik untuk memperhatikan pendidikan anak dalam berbagai aspek sehingga anak menjadi pribadi yang baik dalam hal  mental, intelektual dan spiritual. Dalam kitabnya Tuhfatul Maudud bi akhkamil Maulud.Ibn Qayyim Al-Jauziyyah memfokuskan beberapa tujuan pendidikan anak usia

dini sebagai berikut:

1)Menanamkan cinta kepada Allah dan Rosul pada diri anak semenjak usia dini sehingga pada saat dewasa telah melekat dan menjadi bagian penting dalam dirinya.

2)Meningkatkan kesehatan akal dengan menjauhkan setiap sesuatu yang menakutkan dan mengagetkan mereka karena hal itu akan berpengaruh pada akalnya.

3)Memperhatikan masalah akhlak dan membiasakan anak dengan kata-kata yang baik dan indah, terpuji, mencintai kebaikan, dan jera terhadap keburukan.

 

Menjaga serta mengembangkan kemampuan, kecerdasan dan jiwa anak sehingga sehingga menjadi sosok yang mempunyai jati diri dan kepribadian yang kokoh (Bahron Fthin, 2006). Pandangan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah tentang tujuan pendidikan di atas berimplikasi pada pentingnya muatan akidah dan akhlak dalam pendidikan anak usia dini. Hal ini dapat diamati pada pengenalan simbol-simbol aqidah islamiyah yang menjadi dasar dari keyakinan yang benar. Rasulullah SAW misalnya, menyatakan bahwa, “Bukalah pembicaraan anak
pada awal mereka dapat bcara dengan kalimat tauhid; La Ilaaha Illaallah”.

Demikian uraian tentang Teori-teori Bermain dan Perkembangan Anak Usia Dini (TK PAUD). Semoga ada manfaatnya.

2 Comments on “Teori-teori Bermain dan Perkembangan Anak Usia Dini (TK PAUD)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *